Posted by : Unknown
Minggu, 20 Oktober 2013
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A.
Alasan Pemilihan Judul
Dalam penyusunan karya tulis ini penulis mendapatkan bahan atau materi
dari hasil kunjungan ke Sangiran Kabupaten Sragendan dari internet. Setelah itu
penulis menyimpulkan atau memilih judul hasil kunjungan ke Sangiran Kabupaten
Sragen, kecuali itu yang mendorong penulis untuk mendapatkan ide judul tersebut
adalah :
1.
Obyek lokasi sebagai bahan pembuatan laporan sudah ditentukan
oleh sekolah.
2.
Untuk menambah wacana atau pengetahuan tentang karya wisata Kabupaten
Sragen.
3.
Menambah rasa sayang dan cinta kepada bangsa dan negara.
4.
Merefreshkan diri dengan pikiran luar.
B.
Tujuan Pengamatan
Tujuan kami
melakukan pengamatan ke Sangiran Kabupaten Sragen adalah :
1.
Dapat memenuhi persyaratan untuk
menempuh Ulangan Akhir Semester Gasal Tahun Ajaran 2013/2014
2.
Meningkatkan pengetahuan.
3.
Menambah rasa ikut serta dalam usaha menyukseskan budaya
Nasional.
4.
Meningkatkan wawasan nusantara.
C.
Metode
1.
Metode pengamatan atau observasi
Pembuatan
karya tulis ini, penulis mendapatkan bahan dengan cara melakukan pengamatan
atau observasi di Wisata Kabupaten Sragen khususnya Sangiran.
2.
Metode Pustaka
Pembuatan
karya tulis ini, penulis mendapatkan bahan dari buku-buku yang telah ada dan
dari internet.
BAB II
HASIL PENELITIAN
A. Sejarah Museum Sangiran
Sejarah Museum Sangiran bermula dari
kegiatan penelitian yang dilakukan oleh Von Koeningswald sekitar tahun 1930-an.
Di dalam kegiatannya Von Koeningswald dibantu oleh Toto Marsono, Kepala Desa
Krikilan pada masa itu. Setiap hari Toto Marsono atas perintah Von Koeningswald
mengerahkan penduduk Sangiran untuk mencari “balung buto” (Bahasa Jawa = tulang
raksasa). Demikian penduduk Sangiran mengistilahkan temuan tulang-tulang
berukuran besar yang telah membatu yang berserakan di sekitar ladang mereka.
Balung buto tersebut adalah fosil yaitu sisa-sisa organisme atau jasad hidup
purba yang terawetkan di dalam bumi.
Fosil-fosil tersebut kemudian
dikumpulkan di Pendopo Kelurahan Krikilan untuk bahan pnelitian Von
Koeningswald, maupun para ahli lainnya. Fosil-fosil yang dianggap penting
dibawa oleh masing-masing peneliti ke laboratorium mereka, sedang sisanya
dibiarkan menumpuk di Pendopo Kelurahan Krikilan.
Setelah Von Koeningswald tidak aktif
lagi melaksanakan penelitian di Sangiran, kegiatan mengumpulkan fosil masih
diteruskan oleh Toto Marsono sehingga jumlah fosil di Pendopo Kelurahan semakin
melimpah. Dari Pendopo Kelurahan Krikilan inilah lahir cikal-bakal Museum
Sangiran.
Untuk menampung koleksi fosil yang
semakin hari semakin bertambah maka pada tahun 1974 Gubernur Jawa Tengah
melalui Bupati Sragen membangun museum kecil di Desa Krikilan, Kecamatan
Kalijambe, Kabupaten Sragen di atas tanah seluas 1000 m². Museum tersebut
diberi nama “Museum Pestosen”. Seluruh koleksi di Pendopo Kelurahan Krikilan
kemudian dipindahkan ke Museum tersebut. Saat ini sisa bangunan museum tersebut
telah dirombak dan dialihfungsikan menjadi Balai Desa Krikilan.
Sementara di Kawasan Cagar Budaya
Sangiran sisi selatan pada tahun 1977 dibangun juga sebuah museum di Desa Dayu,
Kecamatan Godangrejo, Kabupaten Karanganyar. Museum ini difungsikan sebagai
basecamp sekaligus tempat untuk menampung hasil penelitian lapangan di wilayah
Cagar Budaya Sangiran sisi selatan. Saat ini museum tersebut sudah dibongkar
dan bangunannya dipindahkan dan dijadikan Pendopo Desa Dayu.
Tahin 1983 pemerintah pusat membangun
museum baru yang lebih besar di Desa Ngampon, Desa Krikilan, Kecamatan
Kalijambe, Kabupaten Sragen. Kompleks Museum ini didirikan di atas tanah seluas
16.675 m². Bnagunannya antara lain terdiri dari Ruang Pameran, Ruang Pertemuan/
Seminar, Ruang Kantor/ Administrasi, Ruang Perpustakaan, Ruang Storage, Ruang
Laboratorium, Ruang Istirahat/ Ruang Tinggal Peneliti, Ruang Garasi, dan Kamar
Mandi. Selanjutnya koleksi yang ada di Museum Plestosen Krikilan dan Koleksi di
Museum Dayu dipindahkan ke museum yang baru ini. Museum ini selain berfungsi
untuk memamerkan fosil temuan dari kawasan Sangiran juga berfungsi untuk
mengkonservasi temuan yang ada dan sebagai pusat perlindungan dan pelestarian
kawasan Sangiran.
B. Koleksi Museum Sangiran
Koleksi yang ada di Museum Situs
Manusia Purba Sangiran saat ini, semua berasal dari sekitar Situs Sangiran.
Saat ini jumlah koleksi seluruhnya ± 13.808 buah. Koleksi tersebut akan selalu
bertambah karena setiap musim hujan, bumi Sangiran selalu mengalami erosi yang
sering menyingkapkan temuan fosil dari dalam tanah.
Koleksi yang ada di Museum Sangiran
antara lain berupa fosil manusia, fosil hewan, fosil tumbuhan, batu-batuan,
sediment tanah, dan juga peralatan batu yang dulu pernah dibuat dan digunakan
oleh manusia purba yang pernah bermukim di Sangiran.
Koleksi-koleksi tersebut sebagian besar masih
disimpan di gudang dan sebagian lagi dipajang di ruang pameran. Ruang pameran
saat ini ada 3 ruang.YANG MAU TAHU LEBIH LANJUT KLIK DI SINI



templatenya dapet mana bang?
BalasHapus